6 Daya Tarik Tetebatu Lombok Desa Wisata UNWTO

Pernah membayangkan liburan yang bukan cuma indah, tapi juga punya makna? Desa Tetebatu yang terletak di selatan Gunung Rinjani dengan ketinggian 700 MDPL merupakan salah satu desa yang mewakili Indonesia di ajang World Best Tourism Village UNWTO 2021. Bukan sembarang desa wisata—Tetebatu adalah bukti nyata bahwa pariwisata berkelanjutan bisa jadi kenyataan, bukan sekadar jargon.

Banyak traveler mencari destinasi yang instagrammable, tapi sedikit yang benar-benar peduli dengan dampak perjalanan mereka terhadap lingkungan dan komunitas lokal. Tetebatu menawarkan solusi: wisata yang tidak hanya memuaskan mata, tapi juga hati nurani. Di era 2026 ini, ketika sustainable tourism menjadi prioritas global, Tetebatu sudah lebih dulu membuktikan bahwa desa wisata bisa sejahtera tanpa mengorbankan alam.

Artikel ini akan membawa Anda menyelami keindahan Tetebatu, dari sawah terasering yang memesona hingga program ekowisata yang menginspirasi. Anda akan menemukan mengapa desa ini layak menjadi destinasi berikutnya, bagaimana mereka menerapkan prinsip ramah lingkungan, dan tips praktis untuk mengunjunginya. Bersiaplah untuk jatuh cinta dengan “Ubud-nya Lombok” yang autentik dan berkelanjutan.

Tetebatu Lombok Desa Wisata Ramah Lingkungan UNWTO adalah desa wisata di Kecamatan Sikur, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, yang terletak pada ketinggian 700 meter di atas permukaan laut. Desa ini dipastikan mewakili Indonesia dalam ajang lomba Best Tourism Village yang diselenggarakan UNWTO, bersama dua desa lainnya dari Yogyakarta dan Nusa Tenggara Timur.

Kisah Tetebatu: Dari Desa Tertua hingga Nominasi UNWTO 2021

6 Daya Tarik Tetebatu Lombok Desa Wisata UNWTO

Desa Tetebatu merupakan desa wisata tertua yang ada di Pulau Lombok. Perjalanannya sebagai destinasi wisata dimulai jauh sebelum konsep sustainable tourism menjadi tren global.

Menurut Penggagas dan Ketua Asosiasi Desa Wisata NTB, Ahyak Aminudin, Tetebatu dikenal pertama kali masyarakat dunia berkat salah seorang wisatawan asal Belanda tahun 1965. Bangunan tempat tinggalnya di Tetebatu jadi tonggak berdirinya puluhan homestay di sekitar desa penyangga. Pondok Soejono ini menjadi inspirasi awal bagi masyarakat untuk mengembangkan desa mereka menjadi destinasi wisata yang ramah lingkungan.

Pada Agustus 2021, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menetapkan desa wisata Tetebatu sebagai peserta lomba UNWTO pada 19 Agustus. Dari tiga desa wisata yang masuk nominasi Best Tourism Villages dari Indonesia, yaitu Desa Wisata Tetebatu dari NTB, Desa Wisata Wae Rebo dari NTT, dan Desa Wisata Nglanggeran dari Gunungkidul DIY, hanya Nglanggeran yang akhirnya keluar sebagai pemenang. Meski tidak menjadi juara, masuk nominasi saja dan jadi perwakilan Indonesia sudah luar biasa, menurut Mariani, Ketua Badan Pengelola Desa Wisata.

Pencapaian ini bukan kebetulan. Desa dengan luas wilayah 8.095,8 Ha² berpenduduk 8.654 jiwa dengan jumlah Kepala Keluarga 2.635 KK, yang terdiri atas laki-laki 4.009 jiwa dan perempuan 4.587 jiwa, telah bekerja keras membangun infrastruktur wisata berbasis komunitas sejak puluhan tahun lalu.

Enam Keunggulan Tetebatu yang Memukau UNWTO

6 Daya Tarik Tetebatu Lombok Desa Wisata UNWTO

Terdapat enam keunggulan yang menjadi daya tarik wisata di Desa Tetebatu: warisan budaya, wisata alam air terjun yang terdapat lebih dari tiga titik, bumi perkemahan, wisata ramah lingkungan dan rute lintasan sepeda gunung, menurut Kepala Dinas Pariwisata NTB, Yusron Hadi.

Warisan Budaya dan Sejarah

Wisatawan dapat menikmati pengalaman wisata religi dengan melihat peninggalan sejarah berupa Al-Quran kuno berusia 200 tahun. Kearifan lokal gotong royong dan pola kehidupan sosial-budaya masyarakat setempat masih kuat terjaga, menciptakan atmosfer desa yang autentik.

Keindahan Alam Air Terjun

Di desa wisata Tetebatu terdapat beberapa air terjun seperti Air terjun Ulem-ulem, Air terjun Burung Walet (Sarang Walet), Air Terjun Kokok Duren, Air Terjun Seme Deye dan Air terjun Jeruk Manis. Air terjun Sarang Walet atau Bat Cave dapat dicapai dalam waktu sekitar 15 menit berjalan kaki dari pusat desa.

Wisata Ramah Lingkungan (Ecogreen)

Tetebatu menerapkan konsep ekowisata secara konsisten. Pemdes Tetebatu bekerjasama dengan Dinas Pertanian dan Peternakan Lombok Timur dengan kegiatan penanaman pohon kayu di sekitar mata air dan penaludan untuk mencegah erosi. Praktik ini sejalan dengan prinsip sustainable tourism yang kini menjadi fokus pemerintah Indonesia.

Menurut Indonesia Tourism Outlook 2025–2026, Quality Tourism bukan lagi jargon, tetapi kebutuhan strategis. Tetebatu telah menerapkan prinsip ini jauh sebelum menjadi tren nasional.

Persawahan Terasering yang Memesona

Topografi desa Tetebatu menunjukkan terbentuknya canyon yang memanjang seperti kontur tanah yang menyajikan hijau dan suburnya panorama sawah yang bertingkat-tingkat (rice terrace). Pemandangan sawah terasering ini menjadi daya tarik utama yang membuat Tetebatu kerap disebut Ubud-nya Lombok.

Hutan Monyet dan Keanekaragaman Hayati

Salah satu daya tarik ekowisata di desa Tetebatu adalah Hutan monyet (monkey forest) yang terletak di bagian utara. Hutan itu dihuni oleh lutung atau lutung (Trachypithecus Auratus), spesies monyet hitam berekor panjang yang merupakan salah satu dari penghuni asli hutan. Kegiatan ekowisata flora-fauna endemik dan bird watching memberikan diversifikasi produk wisata desa.

Rute Sepeda Gunung dan Camping Ground

Bagi pecinta petualangan, Tetebatu memiliki lintasan down hill atau sepeda gunung yang menantang. Area bumi perkemahan juga tersedia untuk wisatawan yang ingin merasakan pengalaman menginap di tengah alam.

Homestay Berbasis Masyarakat: Jantung Sustainable Tourism Tetebatu

6 Daya Tarik Tetebatu Lombok Desa Wisata UNWTO

Masyarakat Tetebatu sudah mulai sadar akan pariwisata. Salah satunya kegiatan Homestay berbasis masyarakat yaitu memberikan wisatawan langsung terlibat bersama dengan tuan rumah dan masyarakat setempat untuk berpengalaman nyata layaknya hidup di pedesaan dengan aktivitas lokal.

Model homestay ini bukan hanya menyediakan tempat menginap, tapi juga pengalaman budaya yang autentik. Wisatawan dapat:

  • Tidur di rumah penduduk lokal dan merasakan kehidupan sehari-hari mereka
  • Makan makanan rumahan yang dimasak dengan resep tradisional
  • Belajar tentang tradisi bertani dan sistem gotong royong
  • Berinteraksi langsung dengan keluarga tuan rumah
  • Berkontribusi langsung ke ekonomi lokal

Pendekatan ini sejalan dengan prinsip sustainable tourism yang didorong pemerintah. Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menekankan empat pilar utama: pengelolaan berkelanjutan dalam bisnis pariwisata, pembangunan ekonomi yang berkelanjutan dalam jangka panjang, pelestarian budaya yang berkelanjutan, serta perlindungan lingkungan.

Aktivitas Eco-Farm yang Edukatif

6 Daya Tarik Tetebatu Lombok Desa Wisata UNWTO

Aktivitas eco-farm di Tetebatu meliputi proses pembuatan kopi Lombok dan minyak kelapa secara tradisional. Pengunjung dapat membawa pulang produk yang mereka bantu buat dan membeli berbagai rempah lokal seperti cabe kering, kayu manis, cengkeh, pala, dan vanila.

Dikenal dengan potensi pertanian yang luar biasa, akan tidak lengkap mengunjungi Tetebatu tanpa mencoba pengalaman hidup desa dan terlibat dalam kegiatan bertani dengan masyarakat lokal. Ini adalah kesempatan unik untuk mencoba aktivitas seperti menanam padi dan memanen, semuanya dengan latar belakang pemandangan pegunungan dan sawah terasering.

Pengalaman hands-on ini memberikan:

  • Pemahaman mendalam tentang pertanian berkelanjutan
  • Apresiasi terhadap kerja keras petani lokal
  • Kesempatan belajar teknik tradisional yang turun-temurun
  • Konten Instagram yang bermakna (bukan sekadar pose!)
  • Kontribusi nyata ke ekonomi pertanian lokal

Akses dan Fasilitas Wisata Tetebatu 2026

6 Daya Tarik Tetebatu Lombok Desa Wisata UNWTO

Cara Mencapai Tetebatu

Desa ini berjarak sekitar 44,2 kilometer dari Kota Mataram atau sekitar dua jam perjalanan jika menggunakan mobil. Untuk mencapai Desa Wisata Tetebatu membutuhkan waktu kurang lebih 2 jam perjalanan dari Kota Mataram. Disarankan bagi Anda yang ingin berkunjung untuk menggunakan kendaraan pribadi atau sewa mobil.

Rute perjalanan:

  • Dari Bandara Internasional Lombok: 1,5-2 jam berkendara
  • Dari Kota Mataram: 2 jam via Narmada dan Kopang
  • Dari Senggigi: 2,5 jam via Mataram
  • Dari Pantai Kuta Lombok: 3 jam via Praya

Fasilitas yang Tersedia

Desa Tetebatu menyediakan berbagai fasilitas wisata yang dirancang untuk memberikan kenyamanan bagi wisatawan: area parkir yang luas dan aman, balai pertemuan untuk berkumpul atau mengadakan acara, kafetaria dan tempat makan yang menyediakan hidangan khas Lombok, kios suvenir dengan berbagai produk kerajinan lokal, dan area outbound bagi yang ingin mencoba aktivitas menantang.

Desa wisata Tetebatu menyuguhkan beberapa fasilitas penunjang bagi para wisatawan seperti homestay dan rumah makan yang mudah dijumpai.

Spot Foto Terbaik

Untuk yang suka berfoto, Desa Tetebatu memiliki berbagai spot foto menarik, mulai dari area sawah, pepohonan, hingga panorama Gunung Rinjani yang megah di latar belakang.

Tips fotografi:

  • Sunrise terbaik: 05:30-06:30 di area persawahan
  • Golden hour sore: 17:00-18:00 dengan latar Gunung Rinjani
  • Monkey Forest: pagi hari saat monyet lebih aktif
  • Air terjun Sarang Walet: siang hari untuk cahaya terbaik

Sustainable Tourism di Era Quality Tourism 2026

6 Daya Tarik Tetebatu Lombok Desa Wisata UNWTO

Indonesia memasuki era Quality Tourism. Menata destinasi, memperkuat daya dukung, dan memastikan manfaat pariwisata kembali ke masyarakat lokal. Tetebatu menjadi contoh nyata implementasi konsep ini.

Pendekatan terbaru, regenerative tourism, memperluas horizon kebijakan. Jika sustainable tourism berfokus pada meminimalkan dampak, maka regenerative tourism bertujuan meninggalkan manfaat yang lebih besar daripada jejak yang dihasilkan wisatawan. Tetebatu telah menerapkan prinsip ini melalui:

  • Program penanaman pohon di sekitar mata air
  • Sistem pengelolaan sampah berbasis komunitas
  • Pelatihan SDM untuk meningkatkan kualitas pelayanan
  • Pelestarian tradisi dan budaya lokal
  • Ekonomi berbasis homestay yang langsung ke keluarga

Indonesia adalah negara kedua di Asia Pasifik setelah China yang menerapkan program Sustainable Tourism Observatory (STO) dan tergabung dalam International Network of Sustainable Tourism Observatories (INSTO). Meski Tetebatu belum menjadi STO resmi, penerapan prinsip-prinsip sustainable tourism-nya sangat layak diapresiasi.

Tips Menjadi Wisatawan Bertanggung Jawab di Tetebatu

Ketika berkunjung ke Tetebatu, Anda bisa berkontribusi positif dengan:

Hormati Budaya Lokal:

  • Berpakaian sopan saat mengunjungi area pemukiman
  • Minta izin sebelum memotret penduduk lokal
  • Pelajari beberapa frasa bahasa Sasak dasar
  • Hormati waktu ibadah dan tradisi lokal

Kurangi Jejak Lingkungan:

  • Bawa botol minum sendiri, kurangi plastik sekali pakai
  • Buang sampah pada tempatnya, pisahkan organik dan non-organik
  • Gunakan produk ramah lingkungan (sunscreen reef-safe, toiletries biodegradable)
  • Jalan kaki atau sewa sepeda untuk eksplorasi desa

Dukung Ekonomi Lokal:

  • Menginap di homestay milik warga, bukan hotel chain
  • Makan di warung lokal, coba kuliner tradisional
  • Beli oleh-oleh langsung dari pengrajin atau petani
  • Gunakan jasa pemandu lokal untuk trekking

Ikut Program Berbasis Komunitas:

  • Eco-farm experience untuk belajar pertanian organik
  • Village life experience untuk interaksi dengan penduduk
  • Beli produk lokal seperti kopi, rempah, dan kerajinan tangan
  • Ikut program penanaman pohon atau konservasi alam

Untuk informasi lebih lanjut tentang Desa Tetebatu, Anda dapat menghubungi pengelola, Bapak Hermiwandi (085237410597).

FAQ: Pertanyaan Umum tentang Tetebatu Lombok Desa Wisata Ramah Lingkungan UNWTO

1. Apa yang membuat Tetebatu layak menjadi nominasi UNWTO Best Tourism Village?

Tetebatu memiliki enam keunggulan utama: warisan budaya yang kuat, lebih dari tiga lokasi air terjun, bumi perkemahan, konsep wisata ramah lingkungan (ecogreen), dan rute lintasan sepeda gunung. Desa ini juga menerapkan prinsip sustainable tourism melalui homestay berbasis masyarakat dan program eco-farm yang melibatkan wisatawan secara langsung.

2. Berapa biaya menginap di homestay Tetebatu?

Data spesifik untuk tarif homestay di Tetebatu belum tersedia secara terpusat. Namun, homestay di desa wisata Indonesia umumnya berkisar Rp 150.000-300.000 per malam termasuk makan. Sebaiknya hubungi pengelola desa wisata atau homestay spesifik untuk informasi terkini.

3. Kapan waktu terbaik mengunjungi Tetebatu?

Waktu terbaik adalah musim kemarau (April-Oktober) untuk cuaca cerah dan trekking yang lebih nyaman. Namun, musim hujan (November-Maret) menawarkan pemandangan persawahan yang lebih hijau. Tetebatu sejuk sepanjang tahun karena ketinggiannya 700 mdpl.

4. Apakah Tetebatu cocok untuk keluarga dengan anak kecil?

Sangat cocok. Aktivitas seperti eco-farm, mengunjungi monkey forest, dan berjalan di persawahan ramah untuk anak-anak. Namun, untuk trekking ke air terjun tertentu perlu pertimbangan usia dan kondisi fisik anak.

5. Apa perbedaan Tetebatu dengan Ubud Bali?

Meskipun sama-sama menawarkan sawah terasering dan budaya lokal, Tetebatu lebih tenang dan autentik dengan jumlah wisatawan lebih sedikit. Tetebatu fokus pada sustainable tourism berbasis komunitas dengan homestay lokal, sementara Ubud lebih komersial dengan banyak resort mewah. Tetebatu juga memiliki akses ke Gunung Rinjani dan budaya Sasak yang unik.

6. Bagaimana cara mendukung sustainable tourism di Tetebatu?

Menginap di homestay milik warga, makan di warung lokal, membeli produk langsung dari petani/pengrajin, mengikuti program eco-farm dan village life experience, serta menghormati budaya dan lingkungan lokal. Hindari menggunakan plastik sekali pakai dan selalu buang sampah pada tempatnya.

7. Apakah perlu pemandu untuk menjelajah Tetebatu?

Untuk area desa dan sawah tidak wajib, tapi sangat disarankan menggunakan pemandu lokal untuk trekking ke air terjun atau monkey forest. Pemandu lokal tidak hanya memastikan keselamatan, tapi juga memberikan insight budaya dan cerita lokal yang memperkaya pengalaman wisata Anda.

Baca Juga Kedung Pedut Waterfall: Hidden Gems Secret Pool Jogja 2025

Tetebatu sebagai Role Model Sustainable Tourism Indonesia

Tetebatu Lombok membuktikan bahwa desa wisata ramah lingkungan bukan sekadar utopia. Dengan nominasi UNWTO Best Tourism Village 2021, desa ini telah menunjukkan kepada dunia bahwa pariwisata berkelanjutan dapat dijalankan secara nyata di Indonesia, memberikan manfaat ekonomi kepada masyarakat lokal sambil melestarikan alam dan budaya.

Di era Quality Tourism 2026, Tetebatu menjadi inspirasi bahwa kualitas lebih penting dari kuantitas wisatawan. Program homestay berbasis masyarakat, aktivitas eco-farm yang edukatif, dan komitmen terhadap pelestarian lingkungan menjadikan Tetebatu destinasi yang tidak hanya indah, tapi juga bermakna.

Poin-poin utama yang perlu diingat:

  • Tetebatu adalah desa wisata tertua di Lombok yang mewakili Indonesia di UNWTO 2021
  • Enam keunggulan utama: warisan budaya, air terjun, camping ground, ecogreen, sawah terasering, dan rute sepeda gunung
  • Homestay berbasis masyarakat menjadi jantung sustainable tourism di Tetebatu
  • Aktivitas eco-farm memberikan pengalaman edukatif dan mendukung ekonomi lokal
  • Lokasi 44 km dari Mataram dengan akses 2 jam berkendara
  • Sejalan dengan Indonesia Tourism Outlook 2025/2026 yang fokus pada quality tourism

Tetebatu mengajarkan kita bahwa traveling bukan hanya tentang mengumpulkan foto atau mengunjungi tempat sebanyak mungkin. Ini tentang meninggalkan dampak positif, memahami budaya lokal, dan berkontribusi pada keberlanjutan destinasi yang kita kunjungi.

Sudah siap untuk merasakan sendiri keajaiban Tetebatu? Rencanakan perjalanan Anda, pesan homestay lokal, dan jadilah bagian dari gerakan sustainable tourism yang mengubah cara kita berwisata.

Bagikan pengalaman Anda di Tetebatu atau rencana kunjungan Anda di kolom komentar! Mari kita dukung desa-desa wisata Indonesia yang berkomitmen pada keberlanjutan.


Sumber Referensi:

  • Jadesta Kemenparekraf – Desa Wisata Tetebatu
  • CNN Indonesia – Desa Tetebatu NTB Masuk Nominasi Desa Wisata Terbaik di Dunia (2021)
  • Detik Travel – Indahnya Desa Tetebatu, Ubud-nya Lombok (2021)
  • ANTARA News – Desa Tetebatu resmi mewakili Indonesia di ajang Desa Wisata Dunia UNWTO (2021)
  • Kompas.com – Mengenal Desa Tetebatu di NTB, Keindahannya Diakui Dunia (2022)
  • Good News From Indonesia – Mengikuti Denyut Alam di Desa Tetebatu Lombok (2025)
  • SustainReview – Quality Tourism 2026, Transformasi Terakhir Menuju Pariwisata Kelas Dunia (2025)
  • Indonesia Tourism Outlook 2025/2026 (November 2025)
  • Sustainable Tourism Indonesia – Official Site Kemenparekraf
  • Travel And Tour World – Indonesia’s Vision for Sustainable Tourism (2025)

About the Author

raadiv

Gue tinggal di kota, tapi suka nongkrong di tempat yang nggak biasa. Hoboken Dive ngebahas hidden gems, kuliner, dan gaya hidup urban dari kacamata lokal.

You may also like these